Standard Chartered Dorong Warga Rusunawa Melek Finansial

0
1025

Standard Chartered Bank (“Bank”) hari ini menyelenggarakan serangkaian kegiatan peningkatan kapasitas dan literasi keuangan bagi masyarakat di Rusunawa Jatinegara. Dua kegiatan yang berlangsung hari ini – pendidikan finansial (financial education) bagi ibu-ibu dan program GOAL bagi remaja putri – merupakan rangkaian dari komitmen Bank dalam mendukung program pemerintah dalam meningkatkan jumlah masyarakat yang melek finansial. Dalam melaksanakan kegiatannya, Bank menggandeng Yayasan Mitra Mandiri Indonesia (YMMI).

Dody Rochadi, Head of Corporate Affairs, Standard Chartered Bank Indonesia menegaskan, “Seluruh masyarakat Indonesia, tanpa melihat latar belakang dan kondisi ekonomi, wajib melek finansial. Untuk itu, kami sepenuhnya mendukung program inklusi keuangan pemerintah.”

Dody menambahkan bahwa Standard Chartered sangat percaya pendidikan keuangan sebagai salah satu faktor utama untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Tanpa pendidikan keuangan yang memadai, masyarakat yang tidak melek finansial tidak dapat membuat keputusan keuangan yang tepat dan bijkasana. Pendidikan keuangan dapat membuka kesempatan bagi masyarakat untuk dapat memanfaatkan layanan keuangan yang dapat membantu mereka untuk meningkatkan kondisi ekonomi mereka. “Dan sebagai sebuah institusi keuangan, kami memiliki tanggungjawab untuk membantu pemerintah meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberian edukasi finansial,” ujarnya.

Salah satu upaya yang dilakukan Bank dalam mendorong masyarakat agar paham mengelola keuangan adalah melalui program GOAL yang diluncurkan Maret tahun ini. GOAL merupakan program Bank dalam pemberian pelatihan dan keterampilan kepada remaja puteri usia antara 12 hingga 20 tahun di 20 negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sesuai dengan namanya, materi diberikan dalam bentuk kombinasi antara olahraga dan pelatihan keterampilan. GOAL bertujuan memberdayakan remaja puteri serta melengkapi mereka dengan rasa percaya diri serta pengetahuan ekonomi agar dapat bermanfaat di keluarga dan masyarakat.

Di Indonesia sendiri, program GOAL ini memiliki target untuk menjangkau sebanyak 1.500 remaja puteri hingga 2018. Selain bekerjasama dengan YMMI untuk melaksanakan program ini di 10 sekolah menengah pertama dan 2 rusunawa di Jakarta, Bank juga akan melaksanakan GOAL dengan melibatkan staf sebagai relawan dan akan berlangsung di 4 kota, yaitu Surabaya, Semarang, Medan, dan Denpasar. Empat modul yang diajarkan adalah Be Money Savvy fokus pada edukasi finansial, Be Yourself fokus pada membangun cara berkomunikasi, Be Healthy fokus pada pemahaman akan kebersihan dan kesehatan diri sendiri, dan Be Empowered fokus pada pengembangan kepercayaan diri. Program GOAL di Indonesia juga turut didukung oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Kementerian Pendidikan Nasional.

Gino Latief, Direktur Yayasan Mitra Mandiri Indonesia mengatakan, “Sebuah kebanggaan bagi kami untuk ditunjuk sebagai mitra oleh Standard Chartered dalam melaksanakan program GOAL selama satu tahun ke depan.”

Selain GOAL, Bank juga memberikan edukasi keuangan bagi ibu-ibu yang bertempat tinggal di rusunawa Jatinegara. Materi yang diberikan termasuk diantaranya menentukan prioritas antara kebutuhan dan keinginan, manfaat dan produk-produk bank, serta bagaimana mengelola keuangan secara sederhana.

Seluruh penerima materi hari ini adalah perempuan. Hal ini karena Bank melihat perempuan, termasuk remaja putri, sebagai modalitas yang berperan penting dalam perputaran roda ekonomi suatu negara. Sayangnya, perempuan seringkali menghadapi tantangan terkait keterlibatan mereka dalam ekonomi, tidak hanya dalam kaitannya dengan tantangan modal, tetapi juga tidak tersedianya dukungan sosial yang relevan.

Kesetaraan gender menjadi sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Berdasarkan survey yang dilakukan McKinsey pada 2015, jika negara-negara di seluruh dunia dapat menciptakan kesetaraan gender, PDB tahunan global dapat meningkat sebanyak $ 12 triliun pada tahun 2025. Kenyataannya, kesetaraan gender sulit sekali dicapai. Beberapa faktor yang menghambat perempuan memperoleh peran yang lebih dalam kehidupan sehari-hari adalah kurangnya pendidikan, penyakit, bias budaya, kekerasan berbasis gender, dan kemiskinan. Sebagian besar perempuan menghadapi masalah-masalah ini justru pada masa remaja.

“Sejalan dengan komitmen untuk memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat di negaranegara kami beroperasi, kami juga fokus memberikan pengetahuan dan keahlian kepada perempuan sehingga mereka dapat memiliki peran yang sama dengan pria. Salah satu bentuk komitmen kami dalam meningkatkan kapasitas perempuan adalah melalui program GOAL yang diperuntukkan bagi remaja puteri,” tutup Dody.