Menanti Cerita Rakyat yang Menyertai GMT

0
834
GMT

ThePresidentPostIndonesia.com – Fenomena alam, gerhana matahari total (GMT) selama ini yang terjadi di Indonesia selalu tak bisa dilepaskan dengan cerita rakyat. Bagi masyarakat negeri ini, cerita rakyat ini muncul lantaran mitos mengenai sesuatu yang menyerupai sosok raksasa akan menelan matahari sehingga membuat alam pun menjadi gelap seperti malam hari.

Ya, GMT rupanya tak hanya dilihat dari perspektif ilmiah saja, seperti ilmuwan yang memantau GMT. Bahkan, dikabarkan NASA ikut memantau GMT langsung di Maba, Halmahera bersama dengan LAPAN. 

Menariknya di Indonesia, dalam logika mitos yang sama, diyakini tetabuhan atau membunyikan perkakas musik bisa mengusirnya. Mitos ini adalah wujud keteguhan manusia Indonesia untuk menjemput terang di tengah kegelapan karena fenomena alam. Keteguhan itu diwujudkan oleh masyarakat Jawa dengan menabuh lesung dan kentongan secara spontan saat terjadi GMT. Kolaborasi tersebut menghasilkan pertunjukan perkusi yang dinamai gejog lesung.

Hal serupa juga dilakukan masyarakat Dayak yang ada di Kalimantan. Mereka biasa memukul gandang karampet atau kendang yang bermembran satu, gandang menca atau kendang dengan dua membran saat GMT. Suara kendang berpadu dengan suling dan garantung atau gong, sakatakok atau kentongan, dan kenong, menjadi ritual yang sakral. Tidak ketinggalan, masyarakat di Maluku Utara juga membuat kegaduhan saat gerhana tiba. Benda apa pun di dekat mereka dibunyikan senyaring mungkin untuk mengusir kegelapan dan mengharap terang datang kembali.

Tradisi-tradisi yang masih terpelihara ini nantinya akan ditemui pada GMT yang berlangsung di Indonesia pada 9 Maret mendatang. Dan, cerita rakyat ini diperkirakan akan menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik maupun turis asing berkunjung ke 12 provinsi yang dilewati GMT 2016. (Gabriel Bobby/patainanews.com)