Revitalisasi Kota Tua Ditangani Para Ahli

0
942

Penataan kawasan bersejarah Kota Tua Jakarta mulai berjalan. Bermodalkan surat perintah Gubernur DKI untuk membentuk konsorsium Revitalisasi Kota Tua, Setyono Djuandi Darmono, Presiden Direktur PT. Jababeka mengajak beberapa pengusaha nasional yang concern untuk bergabung hingga terbentuklah PT. Pembangunan Kota Tua Jakarta (PEMKOT).

Juga bersama-sama dengan para ahli arsitektur sejarah dan seni membentuk perkumpulan perdata Pelestarian Budaya Kota Tua Jakarta (Jakarta Endowment for Art and Heritage – JEFAH). PT. PEMKOT dan JEFAH memasang tiga target jangka pendek. Pertama, melakukan revitalisasi Taman Fatahillah. Kedua, melaksanakan re-adaptive usage terhadap Kantor Pos Fatahillah untuk dijadikan sebagai visitor center dan Jakarta Museum of Contemporary Art. Ketiga, mengadakan Fiesta Kota Tua di Fatahillah Square berupa pertunjukan seni, festival kuliner dan pesta rakyat. Program ini juga didukung oleh PT. Pos Indonesia sebagai corporate sponsor.

Di kawasan Kota Tua sendiri terdapat sebanyak 134 bangunan peninggalan zaman kolonial Belanda. Dari jumlah itu, hanya lima bangunan saja yang merupakan milik Pemprov DKI Jakarta yakni Museum Sejarah Jakarta, Museum Bahari, Balai Konservasi, Museum Wayang, serta Museum Seni Rupa dan Keramik.

Agar lebih menarik wisatawan ke Kota Tua, kawasan tersebut juga akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti hotel, restoran, serta galeri. Sementara untuk para Pedagang Kaki Lima (PKL) dan Usaha Kecil Menengah (UKM) akan diberikan tempat untuk mengembangkan usahanya.

Adapun JEFAH diketuai oleh Goenawan Mohamad dengan Penasihat bidang Hubungan Kelembagaan Sofyan Djalil (Mantan Menteri BUMN), Penasihat bidang Seni Rupa dan Museum Oei Hong Dijen, dan Penasihat bidang Arsitektur dan Heritage Han Awal. Sementara itu Direktur Utama PT. PEMKOT adalah Lin Che Wei merangkap Direktur JEFAH dan Teten Masduki (Indonesia Corruption Watch) menjabat Wakil Direktur JEFAH.

Di jajaran Dewan Perwalian (pemegang saham) ada SD Darmono (Jababeka), Edwin Soeryadjaya (Saratoga), Hendro Gondokusumo (Intiland), Trihatma K. Haliman (Agung Podomoro Land), Harun Hajadi (Ciputra), Alexander Kusuma (Agung Sedayu), Boyke Gozali (Plaza Indonesia), Murdaya Poo (Central Cipta Murdaya Group), dll.

Duduk sebagai Dewan Penasehat JEFAH yang mewakili Pemprov DKI adalah Deputi Gubernur DKI bidang Pariwisata dan Kebudayaan Sylviana Murni, Kepala Disparbud DKI Arie Budiman dan Deputi Gubernur bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Sarwo Handayani.

SD Darmono mengatakan, “Kelompok ini dibentuk untuk mendukung Pemda DKI membentuk KEK dan untuk meringankan beban Pemda DKI mengurusi Kota Tua yang pelik dan menyita waktu Gubernur.”

Ia melanjutkan, program revitalisasi Kota Tua merupakan kolaborasi dan didukung oleh sektor privat, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. “Selain itu, di kemudian hari, kita juga berharap akan terbentuk kelompok-kelompok kerja yang melibatkan para stakeholders dan kelompok masyarakat yang peduli pada Kota Tua Jakarta,” ujar Darmono.

Mengenai dana, sebelumnya Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo pernah mengatakan bahwa Pemprov DKI akan menggelontorkan dana sebesar Rp 150 miliar. “Saya mengakui dalam penataan Kota Tua tidak semua menggunakan APBD DKI. Untuk bangunan milik swasta dan BUMN akan diperbaiki dengan anggaran masing-masing. Dan untuk proyek ini Pemrov DKI akan merogoh kocek sebesar Rp150 miliar untuk merevitalisasi kawasan Kota Tua, Jakarta Barat sebagai kawasan yang lebih baik dan eksklusif,” katanya.

Sementara itu Direktur Utama PT. PEMKOT Lin Che Wei mengatakan bahwa setiap pemegang saham akan merogoh kocek Rp 10 miliar untuk PT Pembangunan Kota Tua Jakarta. Hingga kini setidaknya ada sepuluh pengusaha yang bergabung. “Adapun anggaran pemerintah DKI akan disalurkan melalui satuan kerja perangkat daerah masing-masing,” kata Kepala Dinas Pariwisata Arie Budiman. (JFS/TPP)