Indonesia Jajaki Pasar Afrika Barat Lewat Senegal dan Gambia

0
808

Indonesia akan memanfaatkan Senegal dan Gambia sebagai pintu masuk (entry point) untuk akses pasar wilayah Afrika Barat. Hal ini dikatakan Staf Ahli Menteri Perdagangan, Partogi Pangaribuan, pada saat memimpin misi dagang ke kedua negara tersebut pada 31 Oktober-1 November 2013.

Misi dagang kali ini, menurut Partogi, merupakan upaya pemerintah Indonesia untuk melakukan penetrasi ke pasar-pasar non tradisional. “Pada kesempatan ini, kami melakukan beberapa kegiatan seperti forum bisnis dengan mengundang instansi pemerintah dan pengusaha setempat. Kemudian memfasilitasi pertemuan one-on-one meeting, serta kunjungan ke kawasan industri, perusahaan importir dan retail,” imbuhnya.

Pada saat melakukan forum bisnis di Senegal dan Gambia, Partogi menyampaikan kepada para pelaku usaha di kedua negara tersebut bahwa melakukan perdagangan yang adil (fair trade) dan saling menguntungkan antar Indonesia dan kedua negara tersebut adalah hal yang penting. “Kami menginginkan kerja sama jangka panjang dan tidak hanya di bidang perdagangan, tetapi juga di sektor-sektor lainnya yang dapat dimanfaatkan oleh kedua pihak,” ujarnya.

Partogi juga menyampaikan harapannya agar kerja sama Indonesia dengan kedua negara tersebut dapat meningkatkan nilai perdagangan dan investasi antara Indonesia dan kawasan Afrika Barat.

Melalui misi dagang ini, pemerintah Indonesia berharap agar kerja sama yang terjalin tidak hanya antara pemerintah (G to G) tetapi juga antara para pelaku usaha Indonesia dan wilayah Afrika Barat (B to B).

Dalam misi dagang ke Senegal dan Gambia ini, Kemendag membawa beberapa perusahaan, antara lain PT Gajah Tunggal (produk ban), PT. Trijaya Abadi (dekorasi rumah dan perhiasan), dan PT. Kirana Mitra Mandiri (busana muslim).

“Perusahaan-perusahaan yang ikut dalam misi dagang kali ini berhasil mencapai kesepakatan dengan beberapa calon mitra dagang potensial di Senegal dan Gambia. Rencananya mereka akan segera mengimplementasikan rencana kerja sama tersebut secepatnya,” ungkap Partogi.

Dari hasil misi dagang ini, Kemendag mengindikasi setidaknya terdapat kontak dagang senilai $ 700 ribu yang merupakan nilai ekspor ketiga perusahaan tersebut dalam satu tahun ke depan ke wilayah Afrika Barat.

Disamping itu, terdapat juga beberapa permintaan produk Indonesia lainnya, seperti produk pertanian, furnitur, dan makanan olahan. “Mudah-mudahan dengan dilakukannya misi dagang ini, aktivitas perdagangan antara Indonesia dan kawasan Afrika Barat ke depan dapat lebih berkembang dan meningkat,” tandas Partogi.