PT Bekasi Power Resmikan PLTGU 130 MW

0
1928

PT Bekasi Power meresmikan pengoperasian pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTGU) berkapasitas 130 Megawatt di Cikarang, Jawa Barat. PT Bekasi Power merupakan salah satu anak usaha PT Jababeka Tbk.

Seluruh listrik yang bakal diproduksi PLTGU di Jababeka akan dibeli PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan harga Rp 1.050 per kilo watt hours (kWh) hingga 20 tahun untuk kemudian disalurkan kembali ke Kawasan Industri Jababeka dan masyarakat di sekitarnya. Adapun pasokan gas untuk PLTGU tersebut di dapat dari Pertamina EP dan PGN masing-masing mencapai 23 juta standar kaki kubik per hari alias million standard cubic feet per day (mmscfd).

“Pembangunan PLTGU ini untuk memenuhi kebutuhan energi industri yang ada di kawasan Jababeka dan sekitarnya,” kata Direktur Utama PT Jababeka, Setyono Djuandi Darmono.

“Jababeka tidak bisa melulu mengandalkan penjualan tanah, kami butuh income lain, salah satunya dari penjualan listrik ini ke PLN,” kata Darmono.

Omzet penjualan listrik PT Bekasi Power ke PLN dikatakan Darmono menghasilkan Rp 1 triliun. Oleh karena itu pihaknya bakal semakin bersemangat untuk terus mengembangkan proyek PLTGU di beberapa daerah lain. Daerah yang kini sedang dilirik adalah di kawasan industri Tanjung Lesung dan juga kawasan industri Cilegon. “Sampai saat ini, sedang masa penjajakan di daerah-daerah, bekerjasama dengan bupati, gubernur di seluruh Indonesia,” ungkap dia saat peresmian PLTGU.

Pemerintah menyambut baik kerjasama swasta dan pemerintah ini. Dirjen Ketenagalistrikan Kementrian ESDM, Jarman mengatakan pemerintah dan PLN hanya mampu menangani pendanaan pembangunan infrstruktur listrik sebesar 60 persen. Untuk itu, sisanya harus dikerjakan oleh pihak swasta.

Makanya, kata Jarman, pemerintah selalu mendukung proyek-proyek pembangkit listrik yang dikerjakan oleh pihak swasta. “Bentuk dukungan kami itu dengan memberi keringanan biaya masuk untuk komponen pembangkit. Komponen pembangkit listrik yang belum diproduksi dalam negeri dan harus diimpor, dapat keringanan biaya masuk di atas 10%,” terang Jarman.